Premana Premadi: Indonesian Astronomer Honored with Asteroid & Prestigious Awards

by Olivia Martinez
0 comments

ेंशियल

Premana Premadi, Astronom ITB dan Mantan Kepala Bosscha yang Namanya Diabadikan sebagai Asteroid


“Semesta ini terlalu besar, terlalu indah, terlalu megah untuk dinikmati sendiri. Ada dorongan bagi kami para astronom untuk berbagi,” ujar Premana.

Meskipun selama ini nama Premana tidak banyak disebut di media, ia telah banyak memberikan kontribusi di dunia akademik. Premana banyak menghasilkan jurnal tentang astronomi.

Astronomi adalah pengetahuan tentang galaksi, bintang, atau benda luar angkasa. Bagi Premana, Astronomi bukan ilmu yang eksklusif dan hanya bisa dipahami oleh akademisi. Ilmu ini, menurutnya, justru harus bisa didekatkan ke masyarakat umum. Oleh karena itu, ia merasa sains tidak seharusnya dinikmati sendiri oleh segelintir orang.

Prinsip berbagi pengetahuan itulah yang ia pegang sejak awal kariernya, Apalagi, bidang yang ia tekuni adalah astrofisika, cabang astronomi yang menerapkan hukum-hukum fisika dan kimia untuk memahami sifat, perilaku, dan evolusi benda-benda langit.

Pada akhir 1980-an, astrofisika masih merupakan bidang yang jarang dipilih di Indonesia, terutama oleh perempuan. Akan tetapi, Premana menjadi salah satu perempuan yang bergelut di bidang itu. Kini, ia ingin berbagi tentang ilmu yang telah ia kuasai, khususnya kepada anak-anak.

Pada 2017, International Astronomical Union (IAU) mengabadikan namanya sebagai asteroid (12937) Premadi, yang sebelumnya dikenal sebagai 3024 P-L. Penamaan asteroid ini menjadi pengakuan resmi dunia astronomi internasional atas kontribusinya.

Pada 2023, Premana juga dianugerahi gelar Honorary Fellow of the Royal Astronomical Society dari Kerajaan Inggris, sebuah penghargaan prestisius bagi ilmuwan dengan dampak global.

Bagi dunia astronomi, Premana adalah nama yang diabadikan sebagai asteroid dan penerima penghargaan bergengsi. Namun, bagi Premana sendiri, sains tetap soal berbagi. Tentang bagaimana pengetahuan langit bisa menyentuh kehidupan manusia, terutama mereka yang selama ini jauh dari akses ilmu pengetahuan.

Siapa Premana Premadi?

Namanya Premana Wardayanti Premadi. Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Alam ITB ini lahir di Surabaya, 13 Juli 1964. 

Sebelum mengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB), Premana pernah menempuh pendidikan Sarjana Sains Astronomi di kampus tersebut. Ia lulus dari kampus Ganesha pada 1988. 

Usai dari ITB, Premana terbang ke Amerika Serikat. Ia melanjutkan studi ke University of Texas at Austin. Di kampus ini, ia mendalami evolusi struktur skala besar alam semesta melalui teknik lensa gravitasi.

Lensa gravitasi adalah metode yang memanfaatkan teori relativitas umum Albert Einstein. Cahaya dari objek jauh di alam semesta akan dibelokkan oleh massa besar, seperti galaksi atau gugus galaksi, sehingga dapat digunakan untuk mempelajari struktur kosmos yang tak terlihat langsung, termasuk materi gelap.

Sederhananya, lensa gravitasi terjadi ketika galaksi yang sangat besar bertindak seperti kaca pembesar alami. Cahaya dari objek jauh dibelokkan oleh gravitasinya, sehingga para astronom bisa melihat struktur alam semesta.

Riset Premana pada 1990-an dikenal sebagai salah satu pionir dalam pengujian model kosmologi teoritis berbasis simulasi komputasional. Ketika meraih gelar doktor pada 1996, ia tercatat sebagai perempuan Indonesia pertama yang menyandang gelar PhD di bidang astrofisika dari universitas tersebut.

“Galaksi itu seperti manusia. Tidak ada dua galaksi yang sama. Lingkungannya berbeda, evolusinya berbeda, tetapi mereka mengikuti hukum alam yang sama. Dan itulah keindahannya,” kata Premana.

Observatorium Bosscha dan Kepemimpinan Perempuan

Pada periode 2018–2023, Premana dipercaya menjadi Kepala Observatorium Bosscha. Ia menjadi perempuan pertama yang memimpin lembaga riset astronomi tertua di Indonesia yang berdiri sejak 1923.

Di bawah kepemimpinannya, Bosscha ditegaskan kembali sebagai pusat pengetahuan tentang alam semesta dengan teknologi terbaik.

“Kita ingin menjaga reputasi sebagai negara yang berada di garis depan. Potensinya luar biasa besar,” ujar Premana.

Sejak awal berdiri, Observatorium Bosscha memang tidak dibangun sekadar sebagai bangunan pengamatan bintang. Pendirian Bosscha yang digagas oleh Perhimpunan Astronomi Hindia Belanda atau Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereniging (NISV) dengan tujuan yang sangat jelas, yakni membangun dan merawat sebuah observatorium astronomi di Hindia Belanda, sekaligus memajukan ilmu astronomi.

Tujuan ini menegaskan bahwa Bosscha sejak awal dirancang sebagai pusat ilmu pengetahuan. Ia menjadi tempat riset, pengamatan, dan pengembangan astronomi, bukan hanya untuk kepentingan ilmuwan pada masanya, tetapi juga sebagai warisan keilmuan jangka panjang.

Peran kepemimpinannya tak berhenti di Bandung. Bersama BRIN, ITB, dan pemerintah daerah, ia merancang program pemberdayaan pendidikan sains di sekitar Observatorium Nasional Timau, Nusa Tenggara Timur. Program ini mencakup penyediaan listrik energi berkelanjutan, akses air bersih, hingga pendirian Science Center untuk pendidikan STEM.

Sains yang Tak Elitis

Alih-alih hanya berkutat pada riset, Premana justru melihat gap antara kemajuan sains dan akses masyarakat terhadap pengetahuan. Ia menilai pengetahuan semakin berkembang pesat tetapi kesadaran dan akses masyarakat terhadap ilmu masih terbatas, utamanya pada anak-anak. Dari sinilah perhatiannya pada pendidikan anak-anak tumbuh.

Apalagi, menurutnya anak-anak adalah golongan yang sangat tertarik dengan benda-benda unik di luar angkasa. Makanya, sifat ini dinilai menjadi peluang bagi Premana untuk mengenalkan astronomi.

“Astronomi itu sains yang mudah mendapat engage dibanding ilmu sains lain. Dan itu membuat anak-anak mudah terpikat,” ujarnya.

Dorongan itu melahirkan Universe Awareness for Children (UNAWE), sebuah gerakan global yang memperkenalkan astronomi kepada anak-anak, terutama di wilayah tertinggal. Melalui astronomi, anak-anak diajak memahami sains dengan cara yang dekat dan membumi, tanpa harus memiliki latar belakang akademik.

Menurut Premana, kesenjangan pendidikan sains bukan persoalan masa depan, tetapi persoalan hari ini.

“Semakin besar kesenjangan antara kemajuan sains dan pendidikan, semakin genting situasinya. Kita perlu jembatan yang kokoh agar masyarakat bisa mengikuti perkembangan sains secara timely,” katanya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

A leading Indonesian astrophysicist, Premana Wardayanti Premadi, has dedicated her career to making the wonders of the universe accessible to all, a commitment recently recognized with both an internationally-named asteroid and a prestigious fellowship. This dedication to public outreach highlights the importance of science education and engagement for communities worldwide.

Premadi, a professor at the Faculty of Mathematics and Natural Sciences at the Bandung Institute of Technology (ITB), believes that the vastness and beauty of the cosmos should be shared, stating, “The universe is too big, too beautiful, too magnificent to be enjoyed alone. There is a drive for us astronomers to share.”

While not widely known in mainstream media, Premadi has made significant contributions to the academic world, publishing numerous astronomy journals throughout her career. Her work centers on astrophysics, a field that applies the laws of physics and chemistry to understand the properties, behavior, and evolution of celestial objects.

Premadi’s passion for sharing knowledge became particularly evident as she pursued astrophysics in the late 1980s, a field that was then relatively uncommon in Indonesia, especially for women. She now focuses on inspiring the next generation, particularly children.

In 2017, the International Astronomical Union (IAU) officially recognized her contributions by naming asteroid (12937) Premadi, previously known as 3024 P-L. This honor signifies international acknowledgement of her impact on the field. Further cementing her legacy, in 2023, Premadi was awarded an Honorary Fellowship by the Royal Astronomical Society of the United Kingdom, a highly esteemed award for scientists with global impact.

Born July 13, 1964, in Surabaya, Premadi earned her Bachelor of Science in Astronomy from ITB in 1988 before continuing her studies at the University of Texas at Austin. There, she specialized in the evolution of large-scale structures in the universe using gravitational lensing.

Gravitational lensing, a method utilizing Albert Einstein’s theory of general relativity, involves the bending of light from distant objects by massive entities like galaxies. This allows astronomers to study the unseen structures of the cosmos, including dark matter. Essentially, massive galaxies act as natural magnifying glasses, revealing structures otherwise invisible.

Premadi’s research in the 1990s was groundbreaking in testing theoretical cosmological models based on computational simulations. In 1996, she became the first Indonesian woman to earn a PhD in astrophysics from the University of Texas at Austin. “Galaxies are like humans,” she explained. “No two galaxies are the same. Their environments are different, their evolution is different, but they follow the same laws of nature. And that is its beauty.”

Leadership at Observatorium Bosscha

From 2018 to 2023, Premadi served as the Head of Observatorium Bosscha, becoming the first woman to lead the oldest astronomical research institution in Indonesia, founded in 1923. Under her leadership, Bosscha was reaffirmed as a leading center for astronomical knowledge and technology.

“We want to maintain our reputation as a country at the forefront,” Premadi stated. “The potential is enormous.” Established by the Dutch-Indies Astronomical Association (NISV), Observatorium Bosscha was always intended to be more than just an observation site; it was designed to advance the science of astronomy and serve as a lasting legacy of scientific knowledge.

Premadi’s leadership extended beyond Bosscha, collaborating with the National Research and Innovation Agency (BRIN), ITB, and local governments to develop science education programs around the Timau National Observatory in Nusa Tenggara Timur. These programs focus on providing sustainable energy, clean water access, and establishing a STEM Science Center.

Bridging the Gap in Science Education

Premadi recognized a disconnect between scientific advancements and public access to knowledge, particularly for children. This led to her involvement with Universe Awareness for Children (UNAWE), a global movement introducing astronomy to children, especially in underserved areas. Through astronomy, children are encouraged to understand science in an accessible and engaging way, regardless of their academic background.

“Astronomy is a science that is easy to engage with compared to other sciences. And that makes children easily captivated,” she noted. Premadi believes that addressing the gap in science education is not a future problem, but a present one. “The bigger the gap between scientific progress and education, the more critical the situation. We need a solid bridge so that society can keep up with scientific developments in a timely manner.”

You may also like

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy